Manzhumah Mimiyah adalah kitab karya Syaikh Hafizh bin
Ahmad Al- Hakimiy rahimahullah yang memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.
·
PEMBUKAAN
Sangat
penting belajar agama dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupan bagi
setiap muslim dan muslimah. Hal ini bertujuan untuk menjadikan ilmu
sebagai pijakan sehingga menjadi lentera terhadapnya, memberikan keamanan dan
penjagaan untuk dirinya dari segala permasalahan fitnah dan ujian-ujian yang
sudah merupakan ketentuan dalam kehidupan. Kembali kepada agama adalah solusi
syar'i serta merupakan kewajiban atas setiap muslim dan muslimah di dalam hal
tersebut.
Ustadz
Dzulqarnain mengingatkan beberapa poin:
Pentingnya
seseorang mengenal kunci-kunci ilmu. Ilmu terbagi 2 ada yang fardhu ain dan
fardhu kifayah. Fardhu ‘ain adalah wajib
atas muslim dan muslimah untuk
mempelajarinya, tidak diizinkan dia
jahil dalam hal tersebut. Hal ini guna menghadapi kondisi dirinya di
berbagai hal yang mesti dijalani oleh setiap muslim dan Muslimah.
Salah
satunya adalah kondisi kematian. Pada saat sakaratul maut Husnul Khatimah
adalah mengucap Lailahaillallah. Lalu, bagaimana dia dapat berucap
lailahailallah jika dia tidak mempelajarinya?
Di
dalam kubur akan ditanya 3 pertanyaan. Siapa yang kau ibadahi? siapa nabimu?
dan apa agamamu? semua akan menjawab sesuai dengan apa yang dia pelajari, apa
yang dia yakini, dan apa yang diamalkan. Ada yang ditanya dengan pertanyaan ini
dalam kubur dan dia pun menjawab “Hah? hah? Saya tidak tahu. Saya hanya
mendengar manusia berucap sesuatu maka saya juga ikut-ikutan mengucapkannya.
Tidak bermanfaat ikut-ikutan! Sebab ini terkait dengan fardu ‘ain. Maka dari
itu perlu untuk mengenal Allah yang dia ibadahi, perlu dia kenal siapa rabbnya,
bagaimana dia mengenal Allah, dengan apa dia mengetahuinya?, bagaimana dia
beribadah kepada Allah, dan selainnya dari pembahasan-pembahasan didalam
mengean Allah. Demikian pula dia wajib mengenal Rasulullah ﷺ , siapa beliau?
Apa kewajiban kita kepada beliau? demikian juga wajib untuk mengenal agamannya,
karena ini fardu ‘ain.
Dihari
kiamat Allah Subhanahu Wa Ta'ala bersumpah dengan dirinya sendiri
"Demi Rabbmu wahai Nabi Muhammad. sungguh kami akan bertanya kepada
manusia manusia itu (semuanya) tentang apa yang mereka kerjakan"
Apa
yang mereka kerjakan ini ditafsirkan oleh al-imam Abul Aliyah rahimahullahu
ta'ala sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu jarir ath-thabari dan di singgung
di beberapa tempat oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullahu ta'ala. Abul Aliyah
berkata "mereka akan ditanya apa yang mereka ibadahi dan mereka akan
ditanya bagaimana menjawab dakwah para nabi dan rasul"
Sebagai
mana hal wajib diatas, dalam proses kuliah Mafatihul Ilm penuntut ilmu
juga memiliki kewajiban didalamnya. Di program Mafatihul Ilm Insya Allah
Ta’ala, terdapat penjelasan dari kunci-kunci ilmu yang menutupi seluruh kadar
kewajiban ini. Apabila dipelajari maka itu adalah tahap awal yang menutupi dari
kewajibannya. Ada sepuluh buku dari program ini, yang sepuluh buku ini Ust.
Dzulqarnain beri judul tersendiri “Silsilah akidah yang menyelamatkan dari api
neraka”
Dalam
kuliah Mafatihul Ilm, salah satu dari sepuluh buku yang akan dibahas
adalah seputar adab dan akhlak. Hal ini agar tak terjadi kekeliruan. Kadang
disangka bahwa mempelajari adab, akhlaq, itu hanya penyempurna saja, bukan
kadar yang wajib. Dan ini keliru, sehingga kadang ada sebagian orang kalau
ditegur terhadap sebagian perbuatannya, “Oh tidak ada masalah itukan urusan
akhlak yang penting manhajnya salafi.” Sedangkan jalan as-salaf itu mencakup
segala hal, akidah, dakwah, ahlak, dan selainnya.
__________________________________________________
“Siapa yang mengambil dari mata air ilmu maka dia akan
stabil (tetap/lurus) dan siapa yang mengambil dari lautan ilmu maka dia akan
goncang (tidak tetap).” Sebab kalau dilihat lautannya ilmu, lautan ilmu itu
banyak, tidak bisa dia kumpul semuanya. Maka dia harus pilih dari ilmu itu
kadar yang paling bagusnya, dia ambil inti sarinya, dia ambil dari
pokok-pokoknya, dasar-dasarnya, kaidah-kaidahnya, pondasi yang membangun dasar
ilmiah di dalamnya, inilah ma’iun ilmi namanya. Adapun, dia mengambil dari
segala sudut maka ini bukan jalan yang benar. Walaupun ada yang dia dapat
faidah tapi tidak membentuk sebuah bangunan ilmiah pada dirinya. Ibarat seorang
yang membangun, kalau kita membangun rumah kita memulai dari membangun
pondasinya. Bangun dulu pondasinya, sudah benar pondasinya, sudah bagus baru
dibangun di atasnya. Seperti itu ilmu, kondisinya seperti itu seorang di dalam
belajar.
(Bagian terakhir di ambil dari situs catatansantri08.blogspot.com
)


0 komentar:
Posting Komentar