Selasa, 17 Desember 2019

Manzhumah Mimiyah- Pembukaan.


Pembukaan

Manzhumah Mimiyah adalah kitab karya Syaikh Hafizh bin Ahmad Al- Hakimiy rahimahullah yang memuat seputar wasiat dan adab ilmiah.
·         PEMBUKAAN
Sangat penting belajar agama dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupan bagi setiap muslim dan muslimah. Hal ini bertujuan  untuk menjadikan ilmu sebagai pijakan sehingga menjadi lentera terhadapnya, memberikan keamanan dan penjagaan untuk dirinya dari segala permasalahan fitnah dan ujian-ujian yang sudah merupakan ketentuan dalam kehidupan. Kembali kepada agama adalah solusi syar'i serta merupakan kewajiban atas setiap muslim dan muslimah di dalam hal tersebut.
Ustadz Dzulqarnain mengingatkan beberapa poin:
Pentingnya seseorang mengenal kunci-kunci ilmu. Ilmu terbagi 2 ada yang fardhu ain dan fardhu kifayah. Fardhu ‘ain adalah wajib atas muslim dan muslimah untuk mempelajarinya, tidak diizinkan dia jahil dalam hal tersebut. Hal ini guna menghadapi kondisi dirinya di berbagai hal yang mesti dijalani oleh setiap muslim dan Muslimah.
Salah satunya adalah kondisi kematian. Pada saat sakaratul maut Husnul Khatimah adalah mengucap Lailahaillallah. Lalu, bagaimana dia dapat berucap lailahailallah jika dia tidak mempelajarinya?
Di dalam kubur akan ditanya 3 pertanyaan. Siapa yang kau ibadahi? siapa nabimu? dan apa agamamu? semua akan menjawab sesuai dengan apa yang dia pelajari, apa yang dia yakini, dan apa yang diamalkan. Ada yang ditanya dengan pertanyaan ini dalam kubur dan dia pun menjawab “Hah? hah? Saya tidak tahu. Saya hanya mendengar manusia berucap sesuatu maka saya juga ikut-ikutan mengucapkannya. Tidak bermanfaat ikut-ikutan! Sebab ini terkait dengan fardu ‘ain. Maka dari itu perlu untuk mengenal Allah yang dia ibadahi, perlu dia kenal siapa rabbnya, bagaimana dia mengenal Allah, dengan apa dia mengetahuinya?, bagaimana dia beribadah kepada Allah, dan selainnya dari pembahasan-pembahasan didalam mengean Allah. Demikian pula dia wajib mengenal Rasulullah ﷺ , siapa beliau? Apa kewajiban kita kepada beliau? demikian juga wajib untuk mengenal agamannya, karena ini fardu ‘ain.
 Dihari kiamat  Allah Subhanahu Wa Ta'ala bersumpah dengan dirinya sendiri "Demi Rabbmu wahai Nabi Muhammad. sungguh kami akan bertanya kepada manusia manusia itu (semuanya) tentang apa yang mereka kerjakan"
Apa yang mereka kerjakan ini ditafsirkan oleh al-imam Abul Aliyah rahimahullahu ta'ala sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu jarir ath-thabari dan di singgung di beberapa tempat oleh Ibnu Al-Qayyim rahimahullahu ta'ala. Abul Aliyah berkata "mereka akan ditanya apa yang mereka ibadahi dan mereka akan ditanya bagaimana menjawab dakwah para nabi dan rasul"
Sebagai mana hal wajib diatas, dalam proses kuliah Mafatihul Ilm penuntut ilmu juga memiliki kewajiban didalamnya. Di program Mafatihul Ilm Insya Allah Ta’ala, terdapat penjelasan dari kunci-kunci ilmu yang menutupi seluruh kadar kewajiban ini. Apabila dipelajari maka itu adalah tahap awal yang menutupi dari kewajibannya. Ada sepuluh buku dari program ini, yang sepuluh buku ini Ust. Dzulqarnain beri judul tersendiri “Silsilah akidah yang menyelamatkan dari api neraka”
Dalam kuliah Mafatihul Ilm, salah satu dari sepuluh buku yang akan dibahas adalah seputar adab dan akhlak. Hal ini agar tak terjadi kekeliruan. Kadang disangka bahwa mempelajari adab, akhlaq, itu hanya penyempurna saja, bukan kadar yang wajib. Dan ini keliru, sehingga kadang ada sebagian orang kalau ditegur terhadap sebagian perbuatannya, “Oh tidak ada masalah itukan urusan akhlak yang penting manhajnya salafi.” Sedangkan jalan as-salaf itu mencakup segala hal, akidah, dakwah, ahlak, dan selainnya. 
__________________________________________________
“Siapa yang mengambil dari mata air ilmu maka dia akan stabil (tetap/lurus) dan siapa yang mengambil dari lautan ilmu maka dia akan goncang (tidak tetap).” Sebab kalau dilihat lautannya ilmu, lautan ilmu itu banyak, tidak bisa dia kumpul semuanya. Maka dia harus pilih dari ilmu itu kadar yang paling bagusnya, dia ambil inti sarinya, dia ambil dari pokok-pokoknya, dasar-dasarnya, kaidah-kaidahnya, pondasi yang membangun dasar ilmiah di dalamnya, inilah ma’iun ilmi namanya. Adapun, dia mengambil dari segala sudut maka ini bukan jalan yang benar. Walaupun ada yang dia dapat faidah tapi tidak membentuk sebuah bangunan ilmiah pada dirinya. Ibarat seorang yang membangun, kalau kita membangun rumah kita memulai dari membangun pondasinya. Bangun dulu pondasinya, sudah benar pondasinya, sudah bagus baru dibangun di atasnya. Seperti itu ilmu, kondisinya seperti itu seorang di dalam belajar.
(Bagian terakhir di ambil dari situs catatansantri08.blogspot.com )

0 komentar:

Posting Komentar